A. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk Allah S.W.T yang
teristimewa yang memiliki tabiat dan mentaati yang mempengaruhi amalan dan
tingkah lakunya, maka keperibadian inilah yang menjadi perbicaraan dan
perbincangan yang utama dalam akhlak. Memang tidak dapat disangkalkan lagi bahawa akhlak merupakan nadi utama
dalam pembangunan manusia. Setiap tamadun umat manusia dari dahulu
sehingga kini ianya terbina dari asas akhlak ataupun dikenali sebagai tamadun
kemanusiaan, yaitu asas yang membina tamadun tersebut di luar kuasa kebendaan.
Walau bagaimanapun, Islam mempunyai persepsinya yang tersendiri dan memiliki asas
akhlaknya dan asas tamadunnya yang tersendiri.
Sesungguhnya
dakwah Islam memiliki kepentingan yang sangat besar atas keberadaan media
informasi ini. Dakwah melihat kemunculan media sebagai sebuah inovasi yang
sangat berharga yang dapat membantu perkembangan dakwah. Namun, pada saat yang
sama, dakwah sedang berhadapan dengan media yang sedang melakukan pemikiran atau budaya atas dakwah Islam itu
sendiri.
Dalam
logika dakwah, keberhasilan sebuah usaha dakwah sangat ditentukan oleh strategi
fiqih dakwah itu sendiri. paling tidak mendorong pelaku dakwah untuk melakukan
persiapan yang lebih maksimal agar tujuan dakwah dapat tercapai kehendak (iradah) Yang Mahakuasa.
B. Pembahasan
Dakwah dengan
akhlak, sebagian kalangan masih menganggap dakwah hanya berbentuk penyampaian
materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi aspek lainnnya, praktek nyata, memberi contoh amalan, dan
akhlak mulia.
Banyak orang yang
pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar , namun hanya sedikit
yang menjalankan ucapannnya dalam praktek nyata. Di sinilah terlihat urgensi
adanya qudwah hasanah (potret keteladanan yang baik) di tengah masyarakat, yang
tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata,
sehinggga teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata tidak selalu hanya terlukis
dalam lenbaran-lembaran kertas.
Jadi, dakwah dengan akhlak mulia
maksudnya mempraktekkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat
manusia kepada kebenaran.
Beberapa contoh akhlak sebagai tonggak dakwah:
1.
Gemar
Membantu Orang Lain.
“Allah akan membantu seorang hamba jika ia
membantu saudaranya" [HR. Muslim no. 6793dari Abu Hurairah]
Sifat gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak
positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut.
Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadîjah Radhiyallahu anhuma
tatkala beliau menghibur suaminya; Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada
beliau. Khadîjah Radhiyallahuanhuma berkata:
“Demi Allâh tidak mungkin! Allâh tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah” [HR. al-Bukhâri no. 3 dan Muslim no. 401]
“Demi Allâh tidak mungkin! Allâh tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah” [HR. al-Bukhâri no. 3 dan Muslim no. 401]
Maksud perkataan Khadîjah Radhiyallahu anhuma di atas,
sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai,
karena Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia
dan karakter utama.
Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah. Tatkala
seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, kemudian ada orang yang
membantunya, jelas susah baginya melupakan kebaikan orang tersebut. Dia akan
terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu
padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan
sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita. Sebagai salah satu
bentuk 'berbalas budi' atas kebaikan yang kita sodorkan kepadanya.
Karena
itu, seharusnya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan
sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia, kitalah yang pertama
kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang
dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada
yang membutuhkan bantuan keuangan, kita berusaha memberikan hutangan pada orang
tersebut. Begitu seterusnya.
2.
Jujur Dalam
Bertutur Kata
Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang
benar,
Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari
membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya
dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.
Seorang
Muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata,
berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita, akan disegani. Ucapannya
akan didengar. Dan ini modal yang amat berharga untuk berdakwah. Didengarkannya
apa yang kita sampaikan itu sudah merupakan suatu langkah awal keberhasilan
dakwah. Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang
kita sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya mudah menyebarkan isu yang
belum jelas kebenarannya, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal .
3.
Bertindak Ramah Terhadap orang miskin dan kaum lemah
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tolonglah aku untuk mencari (dan
membantu) orang-orang lemah. Sesungguhnya kalian dikaruniai rezeki dan meraih
kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian". [HR. Abu Dâwud no. 2594, dan sanadnya dinilai jayyid
(baik) oleh an-Nawawi] [6]
Bersikap ramah dan perhatian terhadap orang-orang lemah
menguntungkan dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi
masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut.
Adapun sisi keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan
mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka
memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan
para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar
Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Dia menjawab, "Orang-orang lemah dan kaum miskin”.
.
.
4.
Santun
Dalam Menyampaikan Nasehat, Sambil Memperhatikan Kondisi Psikologis Orang Yang dinasehati.
Dari Abu Hurairah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ucapan yang baik adalah sedekah [HR. al-Bukhâri no. 2989 dan Muslim no. 2332]
Dari Abu Hurairah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ucapan yang baik adalah sedekah [HR. al-Bukhâri no. 2989 dan Muslim no. 2332]
Memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan psikologis
seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah. Penulis pernah mendapatkan
cerita dari saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan
seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi
membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota
tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi
langsung menangkis, "Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita
lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!". Begitu mendengar
balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam.
Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun
tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita 'menabrak' langsung
lawan bicara kita. Bukankah itu akan mengakibatkan dakwah kita sulit untuk
diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya,
lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?
Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut,
"Betul Pak, pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan
ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah
indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan
mental masyarakat, sehingga timbullah keseimbangan
antara dua sisitersebut".
5. Bersifat Pemaaf
Terhadap Orang Yang Menyakiti Dan Membalas Keburukan Dengan Kebaikan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
.Jadilah
Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah
dari pada orang-orang yang bodoh.
Potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam amatlah banyak, baik dengan sesama Muslim, maupun
dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin.
Di antara contoh jenis pertama, kejadian yang dikisahkan Anas bin Malik Radhiyallahu anhhu:
Di antara contoh jenis pertama, kejadian yang dikisahkan Anas bin Malik Radhiyallahu anhhu:
Suatu hari aku berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan saat itu beliau mengenakan pakaian (kain) buatan Najran yang
tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik
keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas
kasarnya tarikan orang itu, sembari berkata, "Berilah aku sebagian dari harta yang Allâh berikan padamu!".
Beliau pun menengok kepadanya sembari tersenyum lalu memerintahkan agar ia
diberi sebagian harta". [HR. al-Bukhâri no. 3149 dan Muslim no. 2426]
Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi
onak dan duri, apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru
yang telah mendarah-daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan muncul
tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin juga berbentuk serangan
fisik, dari pihak yang antipati terhadap dakwah. Ketika seorang da'i menghadapi
semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran, tidak lupa diiringi dengan
kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan kebaikan; insya Allâh
dengan berjalannya waktu, hati para 'lawan' dakwah akan luluh, atau minimal
akan menyegani dakwah yang penuh berkah ini dan tidak mudah untuk melontarkan
tuduhan-tuduhan miring.
Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan
orang lain, dan lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak
musuh bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan, berkat taufiq dari
Allâh Azza wa Jalla, kemudian dengan ketulusan hati para da'i.
6.
Menahan Diri Dari Meminta-Minta Apa Yang Dimiliki Orang
Lain.
(Berinfaqlah) kepada
orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat
(berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena
memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat
sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja
harta yang baik yang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar