Senin, 06 April 2015

FIQH DAKWAH : AKHLAK SEBAGAI TONGGAK DAKWAH



A.   Pendahuluan

Manusia adalah makhluk Allah S.W.T yang teristimewa yang memiliki tabiat dan mentaati yang mempengaruhi amalan dan tingkah lakunya, maka keperibadian inilah yang menjadi perbicaraan dan perbincangan yang utama dalam akhlak. Memang tidak dapat disangkalkan lagi bahawa akhlak merupakan nadi utama dalam pembangunan manusia. Setiap tamadun umat manusia dari  dahulu sehingga kini ianya terbina dari asas akhlak ataupun dikenali sebagai tamadun kemanusiaan, yaitu asas yang membina tamadun tersebut di luar kuasa kebendaan. Walau bagaimanapun, Islam mempunyai persepsinya yang tersendiri dan memiliki asas akhlaknya dan asas tamadunnya yang tersendiri.

Sesungguhnya dakwah Islam memiliki kepentingan yang sangat besar atas keberadaan media informasi ini. Dakwah melihat kemunculan media sebagai sebuah inovasi yang sangat berharga yang dapat membantu perkembangan dakwah. Namun, pada saat yang sama, dakwah sedang berhadapan dengan media yang sedang melakukan  pemikiran atau budaya atas dakwah Islam itu sendiri.
Dalam logika dakwah, keberhasilan sebuah usaha dakwah sangat ditentukan oleh strategi fiqih dakwah itu sendiri. paling tidak mendorong pelaku dakwah untuk melakukan persiapan yang lebih maksimal agar tujuan dakwah dapat tercapai  kehendak (iradah) Yang Mahakuasa.








B.     Pembahasan
Dakwah dengan akhlak, sebagian kalangan masih menganggap dakwah hanya berbentuk penyampaian materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi aspek lainnnya, praktek nyata, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia.
Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar , namun hanya sedikit yang menjalankan ucapannnya dalam praktek nyata. Di sinilah terlihat urgensi adanya qudwah hasanah (potret keteladanan yang baik) di tengah masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehinggga teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata tidak selalu hanya terlukis dalam lenbaran-lembaran kertas.
Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya mempraktekkan akhlak mulia sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.
Beberapa contoh akhlak sebagai tonggak dakwah:
1.     Gemar Membantu Orang Lain.
Allah akan membantu seorang hamba jika ia membantu saudaranya" [HR. Muslim no. 6793dari Abu Hurairah] 
Sifat gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadîjah Radhiyallahu anhuma tatkala beliau menghibur suaminya; Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama kali pada beliau. Khadîjah Radhiyallahuanhuma         berkata: 

“Demi Allâh tidak mungkin! Allâh tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah” [HR. al-Bukhâri no. 3 dan Muslim no. 401]
Maksud perkataan Khadîjah Radhiyallahu anhuma di atas, sesungguhnya engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai, karena Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia dan karakter utama.
Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah. Tatkala seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, kemudian ada orang yang membantunya, jelas susah baginya melupakan kebaikan orang tersebut. Dia akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita. Sebagai salah satu bentuk 'berbalas budi' atas kebaikan yang kita sodorkan kepadanya. 
Karena itu, seharusnya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia, kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan keuangan, kita berusaha memberikan hutangan pada orang tersebut. Begitu seterusnya.

2.     Jujur Dalam Bertutur Kata

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar,
Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.
Seorang Muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur kata, berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita, akan disegani. Ucapannya akan didengar. Dan ini modal yang amat berharga untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah merupakan suatu langkah awal keberhasilan dakwah. Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya mudah menyebarkan isu yang belum jelas kebenarannya, tentu jalan dakwah berikutnya akan semakin terjal                     .

3.    Bertindak            Ramah Terhadap orang miskin dan  kaum lemah      
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
Tolonglah aku untuk mencari (dan membantu) orang-orang lemah. Sesungguhnya kalian dikaruniai rezeki dan meraih kemenangan lantaran adanya orang-orang miskin di antara kalian". [HR. Abu Dâwud no. 2594, dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawi] [6] 
Bersikap ramah dan perhatian terhadap orang-orang lemah menguntungkan dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut. 
Adapun sisi  keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya mereka memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya tentang siapakah pengikut Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Dia menjawab, "Orang-orang lemah dan         kaum  miskin”.

.


4.    Santun Dalam Menyampaikan Nasehat, Sambil Memperhatikan Kondisi Psikologis Orang Yang      dinasehati.
Dari Abu Hurairah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 

Ucapan yang baik adalah sedekah [HR. al-Bukhâri no. 2989 dan Muslim no. 2332]
Memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan psikologis seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah. Penulis pernah mendapatkan cerita dari saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menangkis, "Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!". Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam.
Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita 'menabrak' langsung lawan bicara kita. Bukankah itu akan mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya, lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan?
Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, "Betul Pak, pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah indahnya jika pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan mental masyarakat, sehingga timbullah       keseimbangan antara dua sisitersebut".

5.     Bersifat Pemaaf Terhadap Orang Yang Menyakiti Dan Membalas Keburukan Dengan Kebaikan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
 

.Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.


Potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam amatlah banyak, baik dengan sesama Muslim, maupun dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum musyrikin.       

Di antara contoh jenis pertama, kejadian yang dikisahkan Anas bin Malik Radhiyallahu anhhu:
Suatu hari aku berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu beliau mengenakan pakaian (kain) buatan Najran yang tepinya kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas kasarnya tarikan orang itu, sembari berkata, "Berilah aku sebagian dari harta yang Allâh berikan padamu!". Beliau pun menengok kepadanya sembari tersenyum lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta". [HR. al-Bukhâri no. 3149 dan Muslim no. 2426]
Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri, apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang telah mendarah-daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan muncul tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin juga berbentuk serangan fisik, dari pihak yang antipati terhadap dakwah. Ketika seorang da'i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran, tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas keburukan dengan kebaikan; insya Allâh dengan berjalannya waktu, hati para 'lawan' dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah yang penuh berkah ini dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhan-tuduhan miring.


Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak musuh bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan, berkat taufiq dari Allâh Azza wa Jalla, kemudian dengan ketulusan hati para da'i. 
6.    Menahan Diri Dari Meminta-Minta Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar