Rabu, 08 April 2015

MAKALAH ULUMUL HADITS : CINTA KEPADA SESAMA MUSLIM



  1. PENDAHULUAN
            pada zaman Rasulullah SAW. Kaum Anshar dengan tulus ikhlas menolong dan merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum Muhajirin sebagai penderitaannya. Perasaan seperti itu bukan didasarkan keterkaitan darah atau keluarga, tetapi didasarkan pada keimanan yang teguh. Tak heran kalau mereka rela memberikan apa saja yang dimilikinya untuk menolong saudaranya dari kaum Muhajirin, bahkan ada yang menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahkan kepada saudaranya dari Muhajirin.
           
            Persaudaraan itu sungguh mencerminkan betapa kokoh dan kuatnya keimanan seseorang. Ia selalu siap menolong saudaranya seiman tanpa diminta, bahkan tidak jarang mengorbankan kepentingannya sendiri demi menolong saudaranya[i]. Perbuatan baik seperti itulah yang akan mendapat pahala besar disisi Allah SWT yakni memberikan sesuatu yang sangat dicintainya kepada saudaranya, tanpa membedakan antara saudaranya seiman dengan dirinya sendiri.




















  1. PEMBAHASAN


CINTA KEPADA SESAMA MUSLIM


ﻋﻥ ﺃﻧﺲ ﺭﻀﻲﺍﻠﻠﻪﻋﻨﻪﻋﻥﺍﻠﻨﺒﻲﺼﻠﻰﺍﻠﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺴﻠﻡ ﻗﺎﻝ: ﻻﻴﺅﻤﻥﺃﺤﺩﻜﻡ ﺤﺘﻰﻴﺤﺏﻷﺨﻴﻪ ﻤﺎﻴﺤﺏ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﴿ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻠﺒﺨﺎﺭﻯﻭﻤﺴﻟﻡ ﻭﺃﺤﻤﺩ ﻭﺍﻠﻨﺴﺎﺉ


Dari Anas r.a berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”
(H.R. Bukhari, Muslim).



A. Penjelasan Hadits
            Seorang mukmin yang ingin mendapat ridha Allah SWT harus berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya, salah satunya adalah mencintai sesama saudaranya seiman seperti ia mencintai dirinya, sebagaimana dinyatakan dalam hadits diatas.

Namun demikian, hadits di atas tidak dapat diartikan bahwa seorang mukmin yang tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya berarti tidak beriman. maksud pernyataan ﻻﻴﺅﻤﻥﺃﺤﺩﻜﻡ  pada hadits di atas ”tidak sempurna keimanan seseorang” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. jadi, pada hadits tersebut berhubungan dengan ketidaksempurnaan.
           
Hadits di atas juga menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya[ii]. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan bukan hal-hal lain, sehingga betul-betul merupakan persaudaraan murni dan suci. Persaudaraan yang akan abadi seabadi imannya kepada Allah SWT. Dengan kata lain, persaudaraan yang didasarkan lillah.
           

            Sebaliknya, orang-orang mukmin yang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri, pada hakikatnya tidak memiliki keimanan yang sesungguhnya. Hal ini karena perbuatan seperti itu merupakan perbuatan orang kufur dan tidak disukai Allah SWT. Tidaklah cukup dipandang mukmin yang taat sekalipun khusuk dalam shalat atau melaksanakan semua rukun Islam bila ia tidak peduli terhadap nasib saudaranya seiman.
           
            Namun demikian, dalam mencintai seorang mukmin, sebagaimana dikatakan di atas, harus didasari lillah. Oleh karena itu, harus tetap memperhatikan rambu-rambu syara’. Tidaklah benar, dengan alasan mencintai saudaranya seiman sehingga ia mau menolong saudaranya tersebut dalam berlaku maksiat dan dosa kepada Allah SWT. Sebaiknya dalam mencintai sesama muslim harus mengutamakan saudara-saudara seiman yang betul-betul taat kepada Allah SWT.
Mencintai sesama muslim dapat dibuktikan dengan berbuat baik pada saudara muslim lainnya. Seorang muslim akan merasa senang jika saudaranya memiliki agama yang baik, aqidah yang benar, tutur kata yang bagus, serta perbuatan yang baik. Ia senang jika saudaranya mendapatkan kebaikan-kebaikan sepeti kesehatan, kecukupan rizki, sejahtera, kedudukan, dan sebagainya.
Sebaliknya, seorang muslim akan tidak senang jika saudaranya hidup sengsara, miskin, dan menderita. Ia pun akan benci bila saudaranya jauh dari agama, selalu berbuat maksiat dan hal tidak baik lainnya. Bila ini terjadi, seorang muslim yang baik akan senantiasa ikhlas menolong saudaranya itu serta menuntunnya kembali ke jalan yang benar/sesuai dengan syariat agama.
Saling tolong-menolong memang kewajiban umat muslim, dan merupakan bukti cinta terhadap sesama muslim. Ini adalah  perbuatan yang terpuji dan disunnahkah. Salah satunya adalah mendahulukan kepentingan saudaranya dalam urusan dunia, seperti bila mendapatkan saudaranya sedang dalam kesulitan. Namun perlu diingat, dimakruhkan bagi seorang muslim mendahulukan kepentingan saudaranya dalam urusan akhirat.
Cinta dan kasih antara sesama muslim dapat dilakukan di mana saja. Di tempat kerja, di sekolah, di rumah, dengan tetangga, bahkan di tempat-tempat umum. Cinta yang terjalin diantara sesama muslim yang tumbuh dan berkembang dengan subur tentunya akan menumbuhkan ukhuwah yang harmonis. Dengan begitu, akan timbul kekuatan yang akan menyatukan muslim demi masa depan umat.


Selain itu, cinta yang terjalin pada sesama muslim akan menghasilkan kelapangan dada dan tautan hati pada setiap muslim untuk saling memberikan senyuman dan keikhlasan. Bukankah senyum itu salah satu ibadah yang disunnahkan bagi setiap muslim.
Mencintai sesama muslim merupakan sayarat kesempurnaan keimanan sekaligus kesempurnaan setiap muslim sebagai manusia. Sudah saatnya seluruh umat muslim menyadari bahwa mencintai terhadap sesama adalah salah satu modal untuk mewujudkan umat yang bersatu dan tetap damai. Sudah saat nya kita menebarkan cinta dan kasih sayang kepada saudara-saudara kita dengan tulus dan ikhlas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar