- PENDAHULUAN
pada zaman Rasulullah SAW. Kaum Anshar dengan tulus ikhlas menolong dan
merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum Muhajirin sebagai penderitaannya.
Perasaan seperti itu bukan didasarkan keterkaitan darah atau keluarga, tetapi
didasarkan pada keimanan yang teguh. Tak heran kalau mereka rela memberikan apa
saja yang dimilikinya untuk menolong saudaranya dari kaum Muhajirin, bahkan ada
yang menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahkan kepada saudaranya dari
Muhajirin.
“Persaudaraan itu sungguh mencerminkan betapa kokoh dan kuatnya keimanan
seseorang. Ia selalu siap menolong saudaranya seiman tanpa diminta, bahkan
tidak jarang mengorbankan kepentingannya sendiri demi menolong saudaranya”[i]. Perbuatan baik seperti itulah yang akan mendapat pahala besar disisi
Allah SWT yakni memberikan sesuatu yang sangat dicintainya kepada saudaranya,
tanpa membedakan antara saudaranya seiman dengan dirinya sendiri.
- PEMBAHASAN
CINTA KEPADA SESAMA MUSLIM
ﻋﻥ ﺃﻧﺲ ﺭﻀﻲﺍﻠﻠﻪﻋﻨﻪﻋﻥﺍﻠﻨﺒﻲﺼﻠﻰﺍﻠﻠﻪﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺴﻠﻡ ﻗﺎﻝ: ﻻﻴﺅﻤﻥﺃﺤﺩﻜﻡ ﺤﺘﻰﻴﺤﺏﻷﺨﻴﻪ ﻤﺎﻴﺤﺏ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﴿ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻠﺒﺨﺎﺭﻯﻭﻤﺴﻟﻡ ﻭﺃﺤﻤﺩ ﻭﺍﻠﻨﺴﺎﺉ ﴾
Dari Anas r.a berkata bahwa Nabi SAW bersabda,
“Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk
saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”
(H.R. Bukhari, Muslim).
A. Penjelasan Hadits
Seorang
mukmin yang ingin mendapat ridha Allah SWT harus berusaha untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya, salah satunya adalah mencintai sesama
saudaranya seiman seperti ia mencintai dirinya, sebagaimana dinyatakan dalam
hadits diatas.
Namun demikian, hadits di atas
tidak dapat diartikan bahwa seorang mukmin yang tidak mencintai saudaranya
seperti mencintai dirinya berarti tidak beriman. maksud pernyataan ﻻﻴﺅﻤﻥﺃﺤﺩﻜﻡ pada hadits di atas ”tidak
sempurna keimanan seseorang” jika tidak mencintai saudaranya seperti mencintai
dirinya sendiri. jadi, ﻻ pada hadits tersebut berhubungan dengan ketidaksempurnaan.
“Hadits di atas juga menggambarkan
bahwa Islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya”[ii]. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan
bukan hal-hal lain, sehingga betul-betul merupakan persaudaraan murni dan suci.
Persaudaraan yang akan abadi seabadi imannya kepada Allah SWT. Dengan kata
lain, persaudaraan yang didasarkan lillah.
Sebaliknya, orang-orang mukmin yang egois yang hanya mementingkan dirinya
sendiri, pada hakikatnya tidak memiliki keimanan yang sesungguhnya. Hal ini
karena perbuatan seperti itu merupakan perbuatan orang kufur dan tidak disukai
Allah SWT. Tidaklah cukup dipandang mukmin yang taat sekalipun khusuk dalam
shalat atau melaksanakan semua rukun Islam bila ia tidak peduli terhadap nasib
saudaranya seiman.
Namun demikian, dalam mencintai seorang mukmin, sebagaimana dikatakan di
atas, harus didasari lillah. Oleh
karena itu, harus tetap memperhatikan rambu-rambu syara’. Tidaklah benar, dengan alasan mencintai saudaranya seiman sehingga ia mau
menolong saudaranya tersebut dalam berlaku maksiat dan dosa kepada Allah SWT. Sebaiknya dalam mencintai sesama muslim harus mengutamakan saudara-saudara
seiman yang betul-betul taat kepada Allah SWT.
Mencintai sesama muslim dapat dibuktikan dengan berbuat
baik pada saudara muslim lainnya. Seorang muslim akan merasa senang jika
saudaranya memiliki agama yang baik, aqidah yang benar, tutur kata yang bagus,
serta perbuatan yang baik. Ia senang jika saudaranya mendapatkan
kebaikan-kebaikan sepeti kesehatan, kecukupan rizki, sejahtera, kedudukan, dan
sebagainya.
Sebaliknya, seorang muslim akan tidak senang jika
saudaranya hidup sengsara, miskin, dan menderita. Ia pun akan benci bila
saudaranya jauh dari agama, selalu berbuat maksiat dan hal tidak baik lainnya.
Bila ini terjadi, seorang muslim yang baik akan senantiasa ikhlas menolong
saudaranya itu serta menuntunnya kembali ke jalan yang benar/sesuai dengan
syariat agama.
Saling tolong-menolong memang kewajiban umat muslim, dan
merupakan bukti cinta terhadap sesama muslim. Ini adalah perbuatan yang
terpuji dan disunnahkah. Salah satunya adalah mendahulukan kepentingan
saudaranya dalam urusan dunia, seperti bila mendapatkan saudaranya sedang dalam
kesulitan. Namun perlu diingat, dimakruhkan bagi seorang muslim mendahulukan
kepentingan saudaranya dalam urusan akhirat.
Cinta dan kasih antara sesama muslim dapat dilakukan di
mana saja. Di tempat kerja, di sekolah, di rumah, dengan tetangga, bahkan di
tempat-tempat umum. Cinta yang terjalin diantara sesama muslim yang tumbuh dan
berkembang dengan subur tentunya akan menumbuhkan ukhuwah yang harmonis. Dengan
begitu, akan timbul kekuatan yang akan menyatukan muslim demi masa depan umat.
Selain itu, cinta yang terjalin pada sesama muslim akan
menghasilkan kelapangan dada dan tautan hati pada setiap muslim untuk saling
memberikan senyuman dan keikhlasan. Bukankah senyum itu salah satu ibadah yang
disunnahkan bagi setiap muslim.
Mencintai sesama muslim merupakan sayarat kesempurnaan
keimanan sekaligus kesempurnaan setiap muslim sebagai manusia. Sudah saatnya
seluruh umat muslim menyadari bahwa mencintai terhadap sesama adalah salah satu
modal untuk mewujudkan umat yang bersatu dan tetap damai. Sudah saat nya kita
menebarkan cinta dan kasih sayang kepada saudara-saudara kita dengan tulus dan
ikhlas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar