KEUTAMAAN SIFAT SABAR
|
k
|
“Hai orang-orang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah
kepada Allah supaya kamu beruntung”.(QS. Ali Imran :200).
ata “sabar”
berasal dari bahasa arab, yang mengandung banyak arti. Antara lain: mampu
menahan, tabah, pasrah dan “tawakal”. Mengucapkan kata sabar mudah, tapi sulit
untuk mengaplikasikannya. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kesabaran,
sehingga ia berbuat hal-hal yang melanggar hukum, dan bertentangan dengan norma
di masyarakat serta agama.
Akhir-akhir ini banyak orang yang
stress, kena gangguan jiwa, karena tidak memiliki kesabaran. Mereka tidak kuat
menghadapi ujian dan tantangan sehingga membuatnya putus asa, dan kemudian
sesat, seperti bunuh diri, dan ada pula yang mengalami gangguan jiwa (gila).
Lebih-lebih krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Bahan-bahan kebutuhan pokok
harganya terus melonjak. Para penganggur tiap tahun bertambah.
Fenomena ini membuat orang cepat emosional,
marah dan mau melakukan apa saja. Sebab sifat sabarnya telah sirna oleh sirna
oleh kesulitan ekonomi. Itulah sebabnya di dalam ajaran islam, sifat sabar
merupakan salah satu tiang dari iman. Orang-orang yang sabar mampu menghadapi
berbagai tantangan, karena ia yakin bahwa semuanya adalah ketentuan dari Allah
SWT. Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh imam thabrani
menyatakan; “orang yang beriman itu selalu sabar terhadap keinginan hawa nafsu
jahat”.
Sabar juga merupakan tolak ukur
dalam menilai seseorang, apakah ia memilki jiwa besar. Allah SWT menegaskan;
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya
tanpa batas”. (QS. Az Zumar :10).
Tak kurang dari 99 kali kata sabar kita jumpai dalam kitab suci Al
Qur’an. Sebagian dari kata “sabar” dikalikan dengan pahala bagi mereka yang
memiliki sifat sabar itu. Dalam surat Al
Baqarah ayat 177, Allah SWT menyuruh manusia untuk bersabar dalam tiga perkara.
Yaitu sabar ketika menerima musibah atau malapetaka, sabar dalam kemelaratan
dan sabar ketika perang. Para ahli filsafat islam kemudian memperluasnya
menjadi beberapa elemen.
Bentuk musibah atau malapetaka
maupun cobaan yang ditimpakan Allah kepada hamba-Nya beraneka ragam. Apakah itu
berupa bencana alam, kebakaran, kecelakaan, keluarga meninggal, kehilangan
harta benda, krisis ekonomi dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan ujian
dari Allah SWT, apakah hamba-Nya sabar atau tidak. Jika mereka sabar, maka itu
pertanda kekokohan imannya. Orang yang kokoh imannya, maka ia akan ingat akan
kekuasaan Allah. Ia menyakini benar bahwa segala sesuatunya itu datang dari
Allah, dan akan kembali kepada Allah SWT.
referensi : buletin cahaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar