Rabu, 08 April 2015

KEUTAMAAN SIFAT SABAR



KEUTAMAAN SIFAT SABAR

k
“Hai orang-orang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.(QS. Ali Imran :200).
ata “sabar” berasal dari bahasa arab, yang mengandung banyak arti. Antara lain: mampu menahan, tabah, pasrah dan “tawakal”. Mengucapkan kata sabar mudah, tapi sulit untuk mengaplikasikannya. Betapa banyak orang yang tidak memiliki kesabaran, sehingga ia berbuat hal-hal yang melanggar hukum, dan bertentangan dengan norma di masyarakat serta agama.
            Akhir-akhir ini banyak orang yang stress, kena gangguan jiwa, karena tidak memiliki kesabaran. Mereka tidak kuat menghadapi ujian dan tantangan sehingga membuatnya putus asa, dan kemudian sesat, seperti bunuh diri, dan ada pula yang mengalami gangguan jiwa (gila). Lebih-lebih krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Bahan-bahan kebutuhan pokok harganya terus melonjak. Para penganggur tiap tahun bertambah.
            Fenomena ini membuat orang cepat emosional, marah dan mau melakukan apa saja. Sebab sifat sabarnya telah sirna oleh sirna oleh kesulitan ekonomi. Itulah sebabnya di dalam ajaran islam, sifat sabar merupakan salah satu tiang dari iman. Orang-orang yang sabar mampu menghadapi berbagai tantangan, karena ia yakin bahwa semuanya adalah ketentuan dari Allah SWT. Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh imam thabrani menyatakan; “orang yang beriman itu selalu sabar terhadap keinginan hawa nafsu jahat”.
            Sabar juga merupakan tolak ukur dalam menilai seseorang, apakah ia memilki jiwa besar. Allah SWT menegaskan; “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas”. (QS. Az Zumar :10­).
Tak kurang dari 99 kali kata sabar kita jumpai dalam kitab suci Al Qur’an. Sebagian dari kata “sabar” dikalikan dengan pahala bagi mereka yang memiliki sifat sabar itu. Dalam surat  Al Baqarah ayat 177, Allah SWT menyuruh manusia untuk bersabar dalam tiga perkara. Yaitu sabar ketika menerima musibah atau malapetaka, sabar dalam kemelaratan dan sabar ketika perang. Para ahli filsafat islam kemudian memperluasnya menjadi beberapa elemen.
            Bentuk musibah atau malapetaka maupun cobaan yang ditimpakan Allah kepada hamba-Nya beraneka ragam. Apakah itu berupa bencana alam, kebakaran, kecelakaan, keluarga meninggal, kehilangan harta benda, krisis ekonomi dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan ujian dari Allah SWT, apakah hamba-Nya sabar atau tidak. Jika mereka sabar, maka itu pertanda kekokohan imannya. Orang yang kokoh imannya, maka ia akan ingat akan kekuasaan Allah. Ia menyakini benar bahwa segala sesuatunya itu datang dari Allah, dan akan kembali kepada Allah SWT.

referensi : buletin cahaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar